INFOTREN.ID - Setelah lebih dari enam minggu konflik berkecamuk yang mengguncang Timur Tengah, sebuah terobosan diplomatik signifikan telah tercapai antara kekuatan regional. Kesepakatan ini melibatkan penghentian permusuhan antara dua negara yang selama ini berseteru.

Pemerintahan Amerika Serikat (AS) secara resmi mengumumkan bahwa salah satu pihak kunci dalam konflik tersebut, Israel, juga telah menyatakan persetujuannya terhadap ketentuan gencatan senjata yang dinegosiasikan. Kesepakatan ini merupakan hasil dari upaya intensif yang dilakukan oleh Washington.

Gencatan senjata ini dirancang untuk memberikan jeda kemanusiaan dan politik setelah rentetan peristiwa eskalatif yang terjadi dalam kurun waktu lebih dari satu setengah bulan terakhir. Langkah ini diharapkan dapat meredakan ketegangan yang sudah mencapai puncaknya.

Secara spesifik, kesepakatan tersebut mencakup komitmen dari pihak Israel untuk menangguhkan segala bentuk operasi militer ofensif terhadap Teheran. Penangguhan ini berlaku selama periode dua minggu penuh masa gencatan senjata berlangsung.

Informasi krusial mengenai persetujuan ini diungkapkan oleh sumber-sumber internal pemerintahan AS kepada media internasional terkemuka. Pengumuman ini keluar tak lama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.

"Israel juga menyetujui ketentuan gencatan senjata," ungkap sejumlah pejabat Gedung Putih yang memilih untuk tidak disebutkan namanya dalam keterangan tersebut, dilansir AFP dan CBS News. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa (7/4).

Para pejabat tersebut menyampaikan detail ini kepada sejumlah media internasional terkemuka pada hari Selasa (7/4), sehari sebelum berita ini dipublikasikan secara luas. Pengungkapan ini memberikan dimensi baru pada kesepakatan yang telah diumumkan sebelumnya.

Pengumuman resmi mengenai persetujuan Israel ini kemudian diperkuat dengan pemberitaan yang muncul pada hari Rabu (8/4/2026), menggarisbawahi keseriusan komitmen yang telah dibuat oleh semua pihak terlibat.

"Informasi ini diungkapkan oleh sejumlah pejabat Gedung Putih yang enggan disebut namanya dalam keterangan kepada sejumlah media internasional terkemuka pada Selasa (7/4), setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata AS dan Iran," demikian keterangan yang diperoleh media, dilansir AFP dan CBS News, Rabu (8/4/2026).