INFOTREN.ID - Iran secara resmi mengklaim telah meraih kemenangan signifikan dalam konfrontasi geopolitiknya dengan Amerika Serikat. Klaim ini muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, memutuskan untuk menangguhkan rencana serangan militer terhadap Iran selama dua minggu ke depan.
Dewan Keamanan Tertinggi Iran menyatakan bahwa penangguhan serangan tersebut merupakan indikasi awal dari keunggulan posisi mereka dalam negosiasi yang sedang berlangsung. Keputusan AS ini dilihat sebagai respons langsung terhadap tekanan yang diberikan oleh Teheran.
Lebih lanjut, badan keamanan tertinggi Iran menyatakan bahwa mereka berhasil memaksa Amerika Serikat untuk menerima rencana strategis yang terdiri dari sepuluh poin utama. Rencana ini menjadi titik balik krusial dalam hubungan bilateral kedua negara yang tegang.
"Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengklaim memaksa Amerika Serikat untuk menerima rencana 10 poinnya," demikian ditegaskan oleh badan tersebut, merujuk pada kesepakatan yang dicapai.
Kesepakatan ini, menurut klaim resmi Iran, mencakup konsesi besar dari pihak Washington terkait sanksi ekonomi yang telah lama diberlakukan. Hal ini merupakan salah satu tuntutan utama yang diajukan oleh Iran selama periode ketegangan.
"Sebagai bagian dari rencana tersebut, AS pada prinsipnya telah setuju untuk mencabut semua sanksi primer dan sekunder terhadap Iran," ujar Dewan Keamanan Tertinggi Iran.
Selain isu sanksi, kesepakatan tersebut juga mencakup langkah nyata terkait kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Iran menuntut penarikan penuh pasukan tempur AS dari wilayah tersebut.
"AS pada prinsipnya telah setuju... dan menarik pasukan tempur AS dari semua pangkalan di kawasan tersebut," tambah pernyataan resmi Dewan Keamanan Iran.
Informasi mengenai klaim kemenangan ini pertama kali diumumkan pada hari Rabu, 8 April 2026. Klaim ini tersebar luas melalui media pemerintah Iran dan kemudian diangkat oleh media internasional ternama.