INFOTREN.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Iran mengeluarkan ancaman serius terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan tersebut. Ancaman ini merupakan respons langsung atas insiden destruktif yang menimpa dua institusi pendidikan tinggi di Iran.
Serangan yang dituding dilakukan oleh koalisi AS-Israel tersebut mengakibatkan kerusakan parah pada dua universitas milik Iran. Kejadian ini memicu reaksi keras dari Garda Revolusi Iran yang merasa kedaulatan akademisnya telah dilanggar secara sengaja.
Sebagai bentuk respons awal, Garda Revolusi telah menetapkan sebuah ultimatum yang sangat spesifik dan mengikat waktu kepada pemerintah Washington. Ultimatum ini berfokus pada penekanan tanggung jawab AS dalam mencegah eskalasi lebih lanjut.
Pernyataan resmi dari Garda Revolusi tersebut menekankan bahwa kelanjutan keamanan universitas-universitas AS di Timur Tengah sangat bergantung pada sikap Washington dalam waktu dekat. Jika tuntutan tidak dipenuhi, konsekuensi serius akan menyusul.
Ancaman balasan itu secara eksplisit menargetkan universitas-universitas Amerika Serikat yang beroperasi di berbagai negara Timur Tengah. Ini menandakan bahwa potensi konflik dapat meluas ke ranah sipil dan akademis.
"Jika pemerintah AS ingin universitas-universitasnya di kawasan ini bebas dari pembalasan, mereka harus mengutuk pemboman universitas-universitas tersebut dalam pernyataan resmi paling lambat pukul 12 siang pada hari Senin, 30 Maret, waktu Teheran," demikian isi pernyataan yang diterbitkan oleh media Iran, dilansir dari AFP, Minggu (29/3/2026).
Kutipan krusial tersebut menetapkan batas waktu yang sangat ketat, yakni tengah hari pada Senin, 30 Maret, berdasarkan zona waktu Teheran. Kegagalan memenuhi syarat ini akan dianggap sebagai izin Iran untuk melancarkan serangan balasan yang telah direncanakan.
Pernyataan tersebut, yang kemudian disebarkan luas oleh media Iran, menunjukkan keseriusan Teheran dalam merespons apa yang mereka anggap sebagai agresi terhadap fasilitas pendidikan mereka sendiri. Ini menjadi babak baru dalam permainan kucing-kucingan antara Iran dan kekuatan Barat.