BADUNG, INFOTREN.ID —Sebuah video berdurasi singkat yang beredar luas di media sosial membuka
kembali percakapan lama tentang batas antara toleransi dan ketegasan di
Bali—pulau yang selama ini dikenal ramah, namun semakin sering diuji oleh
perilaku wisatawan.
Peristiwa itu terjadi di kawasan Uluwatu, tepatnya di Desa
Pecatu, Kuta Selatan, pada dini hari 30 Maret 2026. Dalam rekaman tersebut,
seorang pria lokal terlihat melumpuhkan seorang turis asing yang diduga dalam
kondisi mabuk, menggunakan teknik cekikan yang terkontrol.
Belakangan, pria tersebut diketahui bernama Belda,
seorang pelatih bela diri yang juga pernah dikenal publik melalui ajang
pencarian bakat nasional.
Awal Mula: Dari Gangguan hingga Dugaan Pelecehan
Menurut penuturan Belda, insiden itu bermula dari perilaku
turis yang dianggap meresahkan pengguna jalan. Ia mengaku melihat pria tersebut
mengganggu sejumlah perempuan di area publik, bahkan diduga menyentuh bagian
tubuh mereka tanpa izin.
“Saya tidak suka dengan apa yang dia lakukan,” ujarnya dalam
pernyataan yang kemudian beredar luas di media sosial.
Saat itu, Belda baru saja menghadiri sebuah acara di kawasan
Uluwatu. Namun perhatiannya teralihkan oleh situasi yang menurutnya sudah
melampaui batas.
Intervensi di Tengah Jalan
Belda mengaku awalnya hanya berniat menegur. Namun situasi
berubah ketika turis tersebut merespons dengan kata-kata kasar, yang diduga
dipengaruhi oleh kondisi mabuk.