INFOTREN.ID - Sebuah pergerakan saham yang cukup mencuri perhatian pasar terjadi baru-baru ini, melibatkan salah satu petinggi emiten teknologi besar di Indonesia. Sosok yang menjadi sorotan adalah Catherine Hindra Sutjahyo, Wakil Direktur Utama (Wadirut) dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Aksi korporasi yang dilakukan oleh Catherine ini menunjukkan strategi investasi yang sangat lihai dalam memanfaatkan volatilitas harga saham GOTO. Pergerakan ini lantas memicu analisis mengenai potensi keuntungan besar yang bisa diraih oleh orang dalam perusahaan.
Secara rinci, transaksi yang dilakukan oleh Wadirut GOTO ini melibatkan pembelian saham pada titik harga yang sangat rendah. Catherine tercatat melakukan akumulasi saham GOTO pada level harga pembukaan hanya Rp 2 per lembar.
Strategi ini terbukti sangat efektif ketika kondisi pasar mendukung pemulihan harga saham perusahaan tersebut. Harga saham GOTO kemudian mengalami apresiasi yang signifikan setelah periode pembelian tersebut dilakukan.
Keberhasilan Catherine adalah ketika ia memutuskan untuk merealisasikan keuntungan dari pembelian harga murah tersebut. Ia menjual kembali saham yang telah dipegangnya pada level harga yang jauh lebih tinggi.
Kenaikan harga jual ini mencapai posisi Rp 52 per lembar saham, menciptakan selisih harga yang sangat menggiurkan. Selisih harga inilah yang kemudian diterjemahkan menjadi keuntungan finansial yang substansial bagi sang eksekutif.
Dampak dari transaksi ini sangat signifikan, di mana Catherine Hindra Sutjahyo dilaporkan meraup keuntungan bersih sebesar Rp 25,7 miliar. Angka ini menegaskan betapa menguntungkannya manuver membeli di harga dasar dan menjual saat terjadi lonjakan.
"Catherine Hindra Sutjahyo Wakil Direktur Utama GOTO beli saham di harga Rp 2 dan jual di harga Rp 52 per saham," demikian fakta yang terungkap mengenai transaksi tersebut, yang menunjukkan perhitungan matang sang Wadirut.
Transaksi semacam ini seringkali menjadi indikator penting bagi investor ritel mengenai optimisme orang dalam terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Informasi ini dilansir dari sumber internal yang memantau pergerakan saham para direksi.