MATARAM INFO.TREN.ID- Pawai Ogoh-ogoh bagi umat Hindu di Lombok maupun di Bali merupakan peristiwa budaya dan religius yang paling dinantikan setiap tahunnya.
Meskipun pulau Lombok dikenal dengan julukan "Pulau Seribu Masjid," kerukunan antar umat beragama atau Moderasi Beragama tercermin sangat kuat melalui tradisi ini.
Untuk diketahui bahwa Pawai Ogoh-ogoh di Pulau Lombok khususnya di wilayah Mataram, biasanya dipusatkan di Jalan Pejanggik.
Adapun rute ini membentang dari arah simpang empat Cakranegara menuju ke arah barat dan biasanya berakhir di depan Taman Sangkareang atau eks-Bandara Selaparang.
Ribuan warga, baik umat Hindu yang merayakan maupun masyarakat umum, memadati sepanjang jalan untuk menonton.
Disebutkan ada sebanyak 105 ogoh-ogoh yang memeriahkan parade menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini.
Pawai ini diadakan pada hari Pengerupukan, tepat sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Makna dari Ogoh-ogoh sendiri adalah representasi dari Bhuta Kala atau unsur-unsur negatif.
Dengan mengarak patung-patung raksasa ini dan kemudian membakarnya (ritual ngeseng), umat Hindu bermaksud menyucikan lingkungan dan diri dari sifat-sifat buruk sebelum memasuki masa hening Nyepi.
Pawai Ogoh-ogoh di Pulau Lombok memiliki nuansa unik yang membedakannya dengan di Bali. Di mana peserta pawai sering kali melibatkan elemen seni lokal.